It's Not Just A Hobby, It's Life!

April 17, 2016


Sampai sekarang, bahkan ketika saya merasa ada hobi-hobi lain yang lebih nge-hits dan kekinian, seperti traveling, kuliner, dan kanca-kancanya, saya lebih memilih untuk menghabiskan waktu luang dengan membaca.

Kenapa membaca? Well, setiap orang pasti memiliki alasan berbeda mengapa mereka lebih suka berdiam di kamar dengan setumpuk buku daripada pergi ke tempat-tempat baru yang -tentu saja- pasti mengasyikkan.

Begitu pula saya.

Sewaktu kecil, saya senang sekali membeli komik saku berukuran 15 x 10 cm yang dijual oleh abang-abang pedagang keliling. Kebanyakan komiknya berisi cerita hantu yang jalan ceritanya simpel dan cukup mudah dimengerti oleh anak-anak. Mulai dari situlah, saya kemudian tertarik dengan segala hal yang berkaitan dengan cerita. Setiap kali saya menemukan buku, saya pasti membacanya. Tujuannya, ya hanya satu : menemukan cerita yang menarik.

Saat masuk ke kelas 2 SD, Ibu Guru yang sampai sekarang masih saya ingat nama dan [sedikit] ciri-cirinya, meminjamkan kami buku-buku cerita untuk dibaca di rumah. Kami boleh memilih sendiri dan boleh meminjam lebih dari satu. Oke, tak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang penikmat kata selain mendapatkan buku yang bagus untuk diajak menghabiskan waktu senggang bersama.

Bukankah begitu?

Sampai SMP, saya masih menekuni hobi tersebut. Apalagi saat SMP, disediakan perpustakaaan yang luas dan bukunya juga lumayan lengkap. Kebanyakan buku yang saya baca adalah novel. Novel teenlit especially dan beberapa novel fantasy. Sempat membaca beberapa novel sastra seperti Layar Terkembang, Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Merahnya Merah dan judul-judul lain yang sampai saat ini belum berhasil saya ingat [hehehe, xD].

Memasuki dunia kerja, well, cukup sulit untuk ‘menyempatkan diri’ untuk membaca. Atau minimal, sekedar membuka-buka buku. Yah, karena kesibukan baru dan masih perlu waktu untuk beradaptasi dengan keadaan. Ditambah dengan ketiadaan fasilitas ‘meminjam buku gratis’. Jadilah, untuk beberapa saat off menjadi pembaca. Paling hanya sekedar baca-baca notes di Facebook atau baca-baca thread di Kaskus.

Sekarang, ketika sudah berhasil menyesuaikan, saya ‘memulai lagi’ hobi membaca saya. Prinsip saya hanya satu : membaca adalah jendela dunia. Dengan membaca, kita bisa menyambangi Jepang, Jerman, negara-negara di Eropa, Bali, Lombok walaupun hanya lewat deskripsi dan gambar. Tapi, bukankah itu lebih baik daripada tidak sama sekali?

Orang yang suka membaca, wawasannya tentu bisa bertambah luas. Karena setiap penulis menginginkan buku yang ditulisnya bermanfaat bagi pembaca. Jadi, tidak mungkin bukunya ditulis dengan asal-asalan. Setidaknya, ada pelajaran yang bisa kita ambil dari sebuah buku, walaupun itu dari sebuah novel fiksi sekalipun.

Bagi seseorang yang gila buku [mungkin saya juga termasuk], ia tidak akan segan mengeluarkan dana banyak untuk membeli buku yang diinginkannya. Sama halnya seperti seseorang yang hobi traveling, ia juga akan rela merogoh kocek demi mendapatkan liburan yang menyenangkan.

Setidaknya, ada 3 judul buku baru setiap bulannya. Yaa, walaupun 3 judul kadang tidak habis dibaca dalam waktu satu bulan. Hahaha. Namun, prinsip saya, setidaknya harus ada satu buku yang selesai saya baca dalam kurun waktu satu bulan.

Sampai saat ini, saya masih suka membaca novel ber-genre teenlit. Namun, sekarang, saya sedang keranjingan dengan novel fantasy anak-anak seperti Spellbinder, The Hobbit, Peterpan, Midnight for Charlie Bones dan ketujuh seri The Chronicles of Narnia. Untuk ke depannya mungkin akan mencoba naskah yang agak berat seperti Babad Tanah Jawi, The Lost City of Z, Sybil dan Angela’s Ashes.



[ My Collection ]


Oke, sejujurnya, alasan saya suka membaca adalah karena dengan membaca, kita bisa berimajinasi dan pergi ke tempat-tempat baru tanpa harus keluar dari kamar yang nyaman [kebanyakan orang-orang yang gila baca, punya imajinasi yang tinggi]. Tak butuh sunset di atas gunung, atau pasir pantai putih yang berkilau, atau makanan-makanan mahal, cukup sebuah buku keren dan secangkir teh di sore hari yang senyap dan damai.

See? Bukankah bahagia itu sederhana?

Tapi, bukan hanya karena saya suka membaca, saya jadi tidak suka traveling. Ada kalanya, saya juga ingin pergi ke tempat-tempat yang sejuk, hijau dan indah untuk menghilangkankan stress yang kadang bisa menjalar sampai ke ubun-ubun. Lain kali, anak gunung, anak mall, anak pantai dan anak-anak yang lain, perlu juga membaca buku, agar isi otaknya tidak cetek. Hehehe.

Bagi saya, membaca kini bukan lagi menjadi sebuah hobi. Tapi, sudah merupakan bagian dari hidup. Apalagi, sekarang sudah banyak terbit e-book, berbagai macam thread yang ceritanya lumayan seru, jadi yang nggak suka nentengin buku, bisa baca lewat smartphone.

Tapi, sejujurnya, saya lebih suka membaca buku cetak. Karena kalau dilihat orang, jadi kelihatan pinter. Hahaha [bagian yang ini, abaikan saja].


NOTE :

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis di blog  mukhofasalfikri.com dengan tema Menulis Pengalaman Membaca

Sponsored by : 









You Might Also Like

0 komentar